Pasti ada alasan mengapa orang sunda, orang papua, orang jawa, dan kalimantan, atau orang cina, orang maluku masuk surga. Tentu Tuhan tidak akan pernah bermaksud menjadi Tuhan untuk suatu kaum atau umat belaka. Hanya manusia saja yang menganggap dia akan masuk surga hanya lantaran satu keyakinan. Entahlah manusia bisa saja sangat chauvinis untuk sekedar memperlihatkan bahwa mereka mengimani yang dekat dengan kemukjizatannya. Sementara dia tidak pernah berfikir bagaimana hal yang sama juga beroperasi di dibelahan dunia yang tidak dilihatnya. Atau kemukjizatan juga terjadi dan beroperasi pada temannya yang kebetulan tidak seiman dengannya. Atau bagaimana Tuhan beroperasi pada lintasan yang tidak terjamah benaknya sama sekali.
Lalu apa arti iman itu sendiri mungkin kita terlampau egois melihat iman sekedar keyakinan. Meski itu merupakan sebuah candu yang mungkin sangat memabukan. Kita bahkan bernai membunuh demi keyakinan kita sendiri. Atau orang lain atau umat yang lain adalah musuh abadi yang mesti dibasmi, sekedar membenarkan keyakinan.
Kita mungkin heran mengapa keyakinan menjadi sebuah paradoks yang tidak ada habis-habisnya. Tatkala keyakinan nyatanya memang seringkali membelenggu dan bukan membebaskan kita, keyakinan kadang membatasi ketimbang memperluas kecintaan kita pada semesta. Bahkan suatu bangsa mungkin akan menjadi sebuah bangsa pembunuh yang sangat beringas untuk mengingatkan pada kita untuk tidak saling membunuh, betapa menyakitkannya pelajaran dari paradoks-paradoks keyakinan.
Mungkin kita tak perlu untuk mempercayai suatu kepercayaan (religiusless) untuk tidak berbuat keji terhadap sesama.
Mana mungkin Tuhan hanya milik orang cina, bahwa Tuhan hanya menciptakan dan patut disembah orang cina. Atau Tuhan yang beradab adalah Tuhannya orang barat yang dengan “kasihnya” Tuhan telah bekerja untuk membuat dirinya, sukunya, kerabatnya, dan kaumnya menjadi lebih dari pada yang lainnya. Dasarnya apa? Sehingga ketika Robinson Crusoe bertemu dengan sahabatnya yang berkulit hitam legam asli keturunan Negroid yang bertempat di polinesia (papua) langsung saja citra “bukan Tuhan” atau “anti Tuhan” menjadi sebuah kognisi yang menggelikan ketika dia membandingkan Tuhannya yang berkulit putih (*mirip dengan dirinya”) adalah Tuhan terbaik. Sedangkan Tuhan si Hitam legam tersebut tentu saja sangat miris dan kumulatif.
Padangan ini tentu saja sangat sempit, tapi ya…hhh itulah terkadang kita juga hidup dengan kesempitan-kesempitan pandangan-pangangan yang terlalu lugu untuk dikemukakan terkadang menjadi sesuatu yang teramat cerdas untuk dipikirkan secara mendalam.
Kita sibuk mendalami perbedaan namun, enggan melihat cakrawala yang paling memungkinkan kita diciptakan berbeda-beda. Mungkin memang ada sekat budaya, garis keturunan, dan sebagainya namun itu tak pernah menghentikan sebuah rasa empati dari nurani masing-masing bahwa ketika kita memiliki cc otak manusia yang rata-rata volumenya sama, baik orang Negroid kah atau kaukasiankah, arabkah, atau austranegsiakah, atau asiakah. Namun pernahkah terpikir bahwa kita berasal dari sebuah softeware dan hardware yang sama…bahkan nyaris sama..
Bahwa semua manusia didunia ini memiliki keunikan dari susunan kimiawi DNA-nya.. ataupun susunan tulang-belulang belakang dan seluruh organnya, kita semua memiliki jantung, kita semua memiliki, ginjal dan berbagi hal yang pada intinya adalah sama. Dan perasaan persamaan ini tentu lebih atas kesadaran yang murni bahwa kita memang warga negara semesta. Tinggal dan bertengger di belantaranya. Sudah saatnya kita sadar bahwa kita adalah sama.
Apa yang membedakan ”kita” disini. Untuk mendapatkan tiket… sekedar bentuk keyakinan yang sektariankah?? Atau kebajikan yang bernilai universal??? Dan bagaimana menjawab Tuhan yang menciptakan surga yang juga sama universalnya. Sehingga kebajikan pantaslah sebagai kebajikan dan bukan sekedar kebaikan subyektif.
Kebajikan universal tentu saja membuat kita tak memiliki musuh selain diri kita sendiri dan hawa nafsu yang memang sudah ”dipasang” dari awal. Untuk apa…tentu saja untuk membedakan orang yang bisa menangkap dengan jiwa yang jernih dan pikiran yang terbuka.
dany
0 Responses to “TUHAN dan SURGA”
Leave a Reply